Ngobrol Santai ” Hoax Ancaman dan Solusi ” Bersama Kapolresta Surakarta Kombes Pol Ahmad Luthfi

img-20170227-wa0101

Polresta Surakarta.com. Berita bohong atau Hoax sudah sangat meresahkan masyarakat baik perorangan maupun lembaga. Guna memberantas hoax Kapolresta Surakarta Kombes Pol Ahmad Luthfi membuat inisiatif dengan mengumpulkan perwakilan masyarakat dan instansi guna membahas masalah ini dalam suasana rilex. Senin tanggal 27 Februari 2017 pukul 08.00 s/d 12.15 wib bertempat di Aula Polresta Surakarta Jl. Adi Sucipto No. 02 Banjarsari Surakarta di gelar acara Ngobrol Santai ” HOAX, ANCAMAN & SOLUSI ” yang diselenggarakan oleh Polresta Surakarta, PWI Surakarta dan Masyarakat Anti Hoax Soloraya dengan dihadiri sekitar 100 peserta undangan.
Dalam Ngobrol Santai atau Ngobras ini dinhadirkan 4 nara Sumber ternama di Solo sebagai berikut :
a. KH. M. Dian Nafi’ ( Ponpes Al Muayyad Windan )
b. Kombes Pol Drs. Ahmad Luthfi, SH, SST, MK ( Kapolresta Surakarta )
c. Anas Syahirul ( Ketua PWI Surakarta )
d. Bpk Bandoe Widiarto( Kepala Bank Indonesia Surakarta )
Acara imi juga di hadiri tokoh lain sbb :
1. Letkol Inf. Erwin Apria Candra ( Dandim 0735/Ska )
2. AKBP Hariadi , SH, SIK ( Wakapolresta Surakarta )
3.Drs. Ahmad Sukina ( Ketua MTA Surakarta )
4. M. Badrus (PERADI)
5. A.M Syafi’i (Ponpes Al Muayyad).
6. Pong Harjatmo (Artis Film).
7. Roemi (BI Solo).
8.Tito Adji. S (OJK Solo).
8. Suwarsono PSM ( Persatuan Masyarakat Surakarta )
9.Ryo. N.C (HIPMI).
10.Para Wartawan Surakarta
11. Perwakilan Mahasiswa Surakarta
Dari ke 4 nara sumber tersebut menyampaikan materi dengan profesi masing – masing.
a. KH. M. Dian Nafi” ( Ponpes Al Muayyad Windan ) menjelaskan sbb :
1) Manusia tak dapat berlepas dari informasi. Setiap hari manusia membutuhkan informasi untuk menjalani hidup. Semakin sehat, relevan dan lengkap informasi itu, maka akan semakin sejahtera dan aman hidupnya. Untuk itu tidak berlebihan jika dinyatakan bahwa termasuk penentu keadaban sebuah bangsa adalah kebaikan mereka mengelola informasi.
2) Amanat Undang – undang . Dalam Undang-undang Dasar 1945 pasal 28E pasal (2) dinyatakan: “Setiap orang atas kebebasan meyakini kepercayaan, menyatakan pikiran dan sikap, sesuai dengan hati nuraninya.” Dan di pasal (3) ditegaskan bahwa “Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat. Hak asasi yang berkaitan dengan informasi itu dijelaskan di dalam Pasal 28F, bahwa “Setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya, serta berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia.”
– Lebih rinci lagi dalam Undang-undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), disertakan pertimbangan dalam huruf d “bahwa penggunaan dan pemanfaatan Teknologi Informasi harus terus dikembangkan untuk menjaga, memelihara, dan memperkukuh persatuan dan kesatuan nasional berdasarkan Peraturan Perundang-undangan demi kepentingan nasional;” dan huruf f “bahwa pemerintah perlu mendukung pengembangan Teknologi Informasi melalui infrastruktur hukum dan pengaturannya sehingga pemanfaatan Teknologi Informasi dilakukan secara aman untuk mencegah penyalahgunaannya dengan memperhatikan nilai-nilai agama dan sosial budaya masyarakat Indonesia.”
3) Definisi Hoax
– Hoax adalah berita bohong. Di google translate disebutkan bahwa secara nomina hoax sepadan dengan lelucon, cerita bohong, kenakalan, dan olokan. Secara verba setara dengan membohongi, mempermainkan, menipu, memperdaya, dan memperdayakan. Pada pokoknya menunjukkan ketidakseriusan dan dapat menimbulkan ketidaknyamanan, bahkan kerugian pada pihak yang terkait.
– Dalam telaah kebahasaan Arab, dalam Kamus Al-Munawwir, didapat rincian lebih lanjut. Ada ifk, sebagai nomina, yang berarti kebohongan, hadits al-ifk atau cerita bohong. Dan sebutan al-afîku, al-afûku dan al-affâku dengan i, u, dan a bertanda payung dibaca panjang, berarti pembohong. Secara verba didapat makna bohong (affaka), dusta (afika), yang keduanya setara dengan kadzaba, lemah akalnya (ufika), dan terbalik (intafaka).
– Jika orang menceritakan perihal orang lain yang nyata yang mengakibatkan ketidaknyamanan pihak yang diceritakan, itu disebut sebagai ghîbah. Jika yang diceritakan itu ternyata tidak nyata, maka terjadilah fitnah. Sanksi moral atas keduanya sangat berat dalam pandangan agama. Yang pertama bagai memakan daging orang yang diceritakan itu dalam kondisi bangkai (QS Al-Hujurat [49]: 12) dan yang kedua lebih keji daripada pembunuhan (QS Al-Baqarah [2]: 191).
– Untuk itu menjaga kebenaran berita menjadi bagian vital dalam kehidupan. Dalam ilmu hadits dikenal ilmu riwayat. Dari segi jumlah periwayat ada yang berkualitas mutawatir, yaitu riwayat tentang sesuatu berita yang sama oleh orang banyak yang tidak mungkin bersepakat dusta. Di bawah itu kualitasnya masyhûr atau dikenal luas dan di bawahnya lagi berstatus ‘azîz atau kuat. Jika riwayat itu datang dari perorangan, maka disebut sebagai hadits âhâd.
– Dari situ didapat penilaian yang berkaitan dengan isi riwayat atau matan. Ada yang berstatus shahîh (valid), hasan (baik), dan dla’îf (lemah). Juga ada yang berkategori maudlû’ (palsu), ma’lûl atau ternyata bercacat, munkar atau disangkal, syâdz atau menyimpang, mudltharib atau rancu, matrûk atau yang ditinggalkan, mudraj atau tersisipi, dan sebagainya. Lebih lanjut bisa dirujuk ke buku pegangan ilmu hadits yang terkenal di pesantren antara lain kitab Alfiyah As-Suyûthi.

2. Anas Syahirul ( Ketua PWI Surakarta )
1) Hoax artinya informasi yang direkayasa untuk menutupi informasi sebenarnya namun juga dapat di artikan :
– upaya pemutarbalikan fakta menggunakan informasi yang meyakinkan tetapi tidak dapat diverifikasi kebenarannya.
– Tindakan mengaburkan informasi yang sebenarnya, dengan cara membanjiri suatu media dengan pesan yang salah agar bisa menutupi pesan yang benar.
2) Pelaku Hoax
– Pencari uang (Pengelola Website,Blog, Fans Page ETC)
– Hyper Partisan (Fans, Kader, , ETC)
– Orang-orang lugu (Ibu-ibu, Anak sekolah, orang2 gaptek , ETC)
– Orang Asing (Kepentingan), (Poxy
War, Poleksusbudhankam, ETC)
3) Motif para pelaku
– UANG
Website trafic, fp market, promotion/endorse product, dll
– IDEOLOGI
Pengen mengganti ideologi negara, dll
– POLITIK
Mengalahkan lawan, pilkada, pilgub, dll
– KEBENCIAN
IRI naik pangkat, beda pendapat, dll
– ISENG
Ego pribadi, pengen diakui dll
4) Bahaya Hoax
– Pembunuhan karakter
– Penipuan
– Perselisihan
– Kekacauan & kerusuhan
– Mengancam NKRI
– Perang
5) Solusi dalam menghadapi Hoax
– PEMERINTAH
• Aparat Penegak Hukum
• Kominfo
– MASYARAKAT
• Sosialisasi
• Edukasi
• Klarifikasi
• Media
• Kesepahaman & Dukungan
• Diskusi Literasi
• Sosialisasi Bersama
• Edukasi dan Partisipasi
• Sinergi komunitas dan masyarakat
6) 6 Tips cerdas memilih media dan mewaspadai Hoax
– Media terdaftar dan memiliki standarisasi sesuai dengan Surat Edaran Dewan Pers
– Media memiliki badan hukum
– Media terdaftar di Dewan Pers
– Konten pemberitaan tidak berisi hasutan dan fitnah
– Konten pemberitaan memiliki sumber yang jelas
– Isi berita bersifat mendidik dan mencerdaskan bangsa

c. Kombes Pol Drs. Ahmad Luthgi , SH, SST, MK ( Kapolresta Surakarta ) dengan judul Antisipasi Kepolisian terhadap berita Hoax antara lain :
1) Latar belakang
– Media Sosial menjadi sarana komunikasi dikalangan masyarakat
– Seluruh info dengan mudah didapat melalui media sosial
– Info yang disampaikan di media sosial sukar dibendung / difilter
– Adanya info Hoax ( bohong ) yang dapat menghasut timbulnya kerugian dan perpecahan dimasyarakat
– Perlu pemahaman masyarakat untuk mengantisipasi berita Hoax dan mengetahui sangsi hukum akibat penyebaran berita Hoax
2) Dasar
– UU No 1 Tahun 1946 tentang KUHP
– UU No 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia
– UU No 40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis
– UU No 7 Tahun 2012 tentang Penanganan Konflik Sosial
– UU No 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas UU No 11 Tahun 2008 tentang ITE
– Surat Edaran Kapolri No 6 / X / 2015 tentang Penanganan Ujaran Kebencian ( Hate Speech )
3) Definisi berita Hoax
– Pemberitaan palsu atau Hoax adalah Usaha untuk menipu atau mengakali pembaca / pendengarnya untuk mempercayai sesuatu, padahal sang pencipta berita palsu tersebut tahu bahwa berita tersebut adalah palsu.
– Hoax dibagi menjadi 3 yaitu berupa Tulisan, Gambar ( Image ), Video yang digunakan untuk menipu atau mengakali pembaca / penonton / pendengarnya untuk mempercayai sesuatu yang biasanya digunakan dalam jejaring sosial seperti facebook, twitter, blog, youtube dll
4) Definisi Polri dan Pakar Teknologi Informasi tentang Hoax dan Fake News antara lain :
– Berita Palsu ( Hoax )
• Berita bohong atau palsu
• Peristiwa dilebih – lebihkan / dihilangkan bagian tertentu
• Tulisan / teks tidak sesuai dengan gambar
• Judul tidak sesuai dengan isi berita
• Peristiwa lama diposting kembali untuk mendukung isu yang sedang ramai dan seolah – olah peristiwa saat ini
• Foto peristiwa lain diubah untuk mendukung isu yang sedang ramai
– Fake News ( Berita Rekayasa )
• Faktanya tidak ada
• Foto hasil penyuntingan / kolase
5) Peran Polri dan Stake Holder dalam menghadapi Berita Hoax dengan motif baik Politik, Ekonomi maupun balas dendam antara lain :
– Preemtif yaitu Deteksi, Pemetaan
– Preventif yaitu Sosialisasi atau memberikan pemahaman kepada masyarakat
– Represif yaitu penegakan hukum
Hal tersebut bertujuan untuk memberikan kondusifitas kamtibmas, namun dalam upaya represif atau penegakan hukum merupakan pilihan terakhir bagi pihak Kepolisian, Polri lebih mengutamakan tindakan Preemtif dan Preventif.
6) Menagkal Berita Hoax
Polri dan Masyarakat serta Stake Holder lainnya saling bekerja sama dalam mengahadapi Hoax, diantaranya :
– Internal / Polri
• Membentuk Unit Cyber Patrol dan Cyber Crime
• Pihak Polri bekerjasama dengan kemenkoinfo dalam pembl;okiran akun Hoax / pemblokiran terhadap media online yang tidak terdaftar di dewan pers yang rentan menebarkan berita Hoax
• Penyediaan layanan Aduan masyarakat melalui SPKT di Polresta Surakarta
– Eksternal / Masyarakat
• Melaporkan akun Hoax ke pihak kepolisian melaui SPKT
• Melaporkan akun/postingan Hoax secara langsung kepihak penyelenggara sosmed ( FB, Twitter, dll )
• Kerjasama antara masyarakat dengan instansi terkait ( menkominfo ) dalam mensosialisasikan bahaya Hoax
7) Sanksi Hukum
– Hoax yang mencemarkan nama baik seseorang / penghinaan
Pasal 27 ayat 3 jo pasal 45 ayat 3 UU RI no 19 tahun 2016 tentang perubahan atas UU no 11 tahun 2008 tentang ITE ( maksimal 4 tahun, denda 750 juta/pasal 310 ayat 2 ( maksimal 1 th 4 bln denda Rp. 4500,-) dan 311 ( maksimal 4 th) KUHP
– Hoax yang berisi info bermuatan propokatif berdasarkan sara
Pasal 28 ayat 2 jo pasal 25a ayat 2 UU no 19 ITE th 2016 ( maksimal 6 th denda 1 milyar)/UU no 40 th 2008 pasal 16 tentang penghapusan diskriminasi ras dan etnis ( maksimal 5 th denda 500 juta)
– Hoax yang berisi penipuan dan menimbulkan kerugian
Pasal 28 ayat 2 jo pasal 25a ayat 2 UU no 19 ITE th 2016 ( maksimal 6 th denda 1 milyar)/pasal 378 KUHP (maksimal 4th)
– Didepan umum menyatakan perasaan permusuhan, kebencian / merendahkan terhadap satu / lebih suku bangsa
Pasal 156 KUHP, ancaman ( maksimal 4 th denda Rp.4.500,-)
– Menyiarkan, mempertunjukkan menempelkan tulisan, lukisan didepan umum yang mengandung pernyataan perasaan permusuhan, kebencian/penghinaan diantara/terhadap golongan – golongan rakyat Indonesia
Pasal 157 KUHP ancaman ( maksimal 2 th 6 bln, denda Rp. 4500,-)
8) Pesan Kepolisian kepada pengguna medsos
– Setiap menerima berita bersifat provokatif tanpa didasarkan pada fakta maka jangan mudah disebarkan karena berpotensi menimbulkan permasalahan sosial
– Jika ditemukan pemberitaan Hoax yang memuat unsur sara, penghinaan, provokatif dsb agar melaporkan ke pihak kepolisian melalui pelayanan SPKT
– Sebagai bangsa yang terpelajar, hendaknya jangan mudah percaya terhadap Hoax yang kita terima, dan kita harus bijak dalam menelaah, serta perlu check dulu kebenaran setiap berita yang ada
– Sebelum memberikan comment pemberitaandi sosmed, hendaknya jangan mudah terbawa emosi sehingga dapat menimbulkan kebencian, provokatif dan menyinggung perasaan pengguna sosmed lainnya
– Jika ada berita Hoax yang berpotensi menimbulkan keresahan, hendaknya kita dapat memberikan saran berupa comment yang edukatif dan sesuai fakta yang ada sehingga mampu menciptakan situasi tetap kondusif. Dalam kesempatan ini juga di sampaikan tentang Smile Police Polda Jateng
– Smile Police merupakan bagian dari website Polda Jawa Tengah
– Smile Police dirancang untuk mengintegrasikan seluruh sistim informasi dan aplikasi yang digunakan oleh Polda Jawa Tengah kedalam web-based interface sesuai dengan kebutuhan Polda Jawa Tengah dan beberapa Mobile Apps.
Acara selain pemaparan juga di lanjutkan sesi tanya jawab dan di akhiri dengan penandatanganan kesepahaman anti Hoax.
Humas Polresta Surakarta

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s